hasil percobaan Alat musik angklung

hasil percobaan Alat musik angklungBuku Pegangan Siswa SD/MI Kelas 1 Tema 5 Pengamanku

Angklung ialah satu kesenian Jawa Barat yang telah brkembang dalam kurung waktu yang sangat panjang, kapan angklung di Ciptakan? hingga kini ini Alat musik angklung ini belum ada data yang 100% Valid kapan rincinya angklung ini dibuat.

Sebagai pendekatan kesenian angklung pada mulanya digunakan sebagai alat kesenian yang dipakai untuk menyembah Dewi Sri, dewi padi, atau dewi kesuburan. Dimana konon pada saat itu masyarakat percaya dengan para dewa dan dewi sebelum ada Agama Islam masuk.

Jadi semenjak kapan angklung ada? jawaban asumsi sementara yakni angkung ada semenjak masyarakat Sunda memakan Padi. Dan angklung berkembang sampai dengan sekarang dengan pelbagai Penemuan yang sudah dilaksanakan oleh para Creator alat musik Angklung

TOKO ALAT MUSIK ANGKLUNG ARUMBA DAN BASS BETOT

KLIK DISINI => WWW.MUSIKANGKLUNG.COM

Angklung adalah alat musik khas Indonesia yang banyak dijumpai di tempat Jawa Barat. Alat musik tradisional ini terbuat dari tabung-tabung bambu. Padahal bunyi atau nada alat ini diwujudkan dari efek benturan tabung-tabung bambu tersebut dengan cara digoyangkan. Sebagai format pengakuan alat musik Indonesia, Angklung sudah teregistrasi sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity dari UNESCO semenjak November 2010. Angklung memiliki sebagian variasi, antara lain : Angklung Kanekes, Angklung Dogdog Lojor, Angklung Gubrag, dan Angklung Padaeng.

Angklung berasal dari bahasa Sunda angkleung-angkleungan ialah gerakan pemain angklung dan menyusun suara klung yang dihasilkannya. Secara etimologis angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah. Jadi, angklung merujuk pada nada yang pecah atau tidak lengkap.

Bentuk angklung terdiri dari dua atau lebih batang bambu dalam berjenis-jenis ukuran sesuai dengan keperluan tinggi rendahnya nada yang disusun menyerupai alat musik calung. Menurut Dr. Groneman, Angklung telah ada di Nusantara, malahan sebelum era Hindu. Menurut Jaap Kunst dalam bukunya Music in Java, selain di Jawa Barat, Angklung juga bisa ditemui di tempat Sumatra Selatan dan Kalimantan. Di luar itu, masyarakat Lampung, Jawa Timur dan Jawa Tengah juga mengetahui alat musik hal yang demikian.

Di lingkungan Kerajaan Sunda (abad ke 12 – abad ke16) , Angklung dimainkan sebagai bentuk pemujaan kepada Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Sri (dewi padi/dewi kesuburan), Kecuali itu, konon Angklung juga yaitu alat musik yang dimainkan sebagai pemacu semangat dalam peperangan, sebagaimana yang disebutkan dalam Kidung Sunda.

Dua tokoh yang berperan dalam perkembangan Angklung di Jawa Barat yakni Daeng Soetigna sebagai Bapak Angklung Diatonis Kromatis dan Udjo Ngalagena yang mengembangkan teknik permainan menurut laras-laras pelog dan salendro.

Pada tahun 1938, Daeng Soetigna, menciptakan angklung dengan tangga nada diatonis. Angklung penemuan kreatif Daeng Sutigna tersebut berbeda dengan angklung pada lazimnya yang menurut tangga nada tradisional pelog atau salendro. Penemuan inilah yang kemudian membuat Angklung dengan leluasa dapat dimainkan harmonis bersama alat-alat musik Barat, pun bisa disajikan dalam bentuk orkestra. Semenjak saat itu, Angklung semakin populer, sampai kesudahannya PBB, via UNESCO, pada November 2010, mengakuinya sebagai warisan dunia yang sepatutnya dilestarikan.

Sesudah Daeng Soetigna, salah seorang muridnya, Udjo Ngalagena, meneruskan usaha Sang Guru mempopulerkan Angklung temuannya, dengan jalan mendirikan “Saung Angklung” di daerah Bandung. Sampai hari ini, tempat yang kemudian diketahui sebagai “Saung Angklung Udjo” tersebut masih menjadi sentra kreativitas yang berkenaan dengan Angklung.

JENIS ANGKLUNG

a. Angklung DogDog Lojor

Angklung ini kerap kali digunakan pada kesenian dogdog lojor yang terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun. Istilah Dogdog Lojor sendiri sejatinya diambil dari nama salah satu instrumen dalam kebiasaan ini, yaitu Dogdog Lojor. Angklung yang digunakan mempunyai fungsi pada kulturnya, adalah sebagai pengiring ritus bercocok-tanam. Setelah masyarakat di sana menganut Islam, dalam perkembangannya, kesenian tersebut juga digunakan untuk mengiringi khitanan dan perkawinan. Dalam kesenian Dogdog Lojor, terdapat 2 instrumen Dogdog Lojor dan 4 instrumen angklung besar.

b. Angklung Kanekes

Angklung Kanekes merupakan Angklung yang dimainkan oleh masyarakat Kanekes (Baduy), di tempat Banten. Kultur Angklung yang ada pada masyarakat Kanekes ini terbilang kuno, dan tetap dilestarikan sebagaimana fungsi yang dicontohkan leluhur mereka, ialah mengiringi ritus bercocok-tanam (padi), bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung dipakai atau dibunyikan saat mereka menanam padi di huma (ladang). Pada masyarakat Kanekes, yang terbagi menjadi dua kelompok, yakni kategori Baduy Luar (Kajeroan) dan kategori Baduy (Luar Kaluaran), yang mempunyai hak membuat Angklung hanyalah warga Baduy Jero, itu bahkan tidak seluruh orang, tapi cuma mereka yang menjadi keturunan para pembuat Angklung. Sementara itu, warga Baduy Luar tak membikin Angklung, tetapi cukup membelinya dari warga Baduy Jero. Nama-nama Angklung di Kanekes dari yang terbesar merupakan: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel.

c. Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kesibukan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung). Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik. Temuan ini berkaitan mitos Dewi Sri yang tidak mau menurunkan hujan.

d. Angklung Padaeng

Angklung Padaeng disampaikan oleh Daeng Soetigna sekitar tahun 1938. Temuan angklung padaeng ini terdapat pada laras nada yang dipakai merupakan diatonik yang cocok dengan sistem musik barat. Sesudah dengan teori musik, Angklung Padaeng secara khusus dibagi ke dalam dua kategori, yaitu: angklung irama dan angklung akompanimen. Angklung irama adalah yang secara spesifik terdiri dari dua tabung suara dengan beda nada 1 oktaf. Pada satu unit angklung, lazimnya terdapat 31 angklung melodi kecil dan 11 angklung ritme besar. Sementara itu, angklung akompanimen yakni angklung yang digunakan sebagai pengiring untuk memainkan nada-nada harmoni. Tabung suaranya terdiri dari 3 hingga 4, cocok dengan akor diatonis. Sesudah penemuan kreatif Daeng Soetigna, pembaruan-pembaruan lainnya terhadap angklung terus berkembang. Metode diantaranya merupakan: Angklung Sarinande, Arumba, Angklung Toel, dan Angklung Sri Murni.

Memainkan

Permainan Angklung cukup gampang dijalankan bagi tiap orang. Memainkanya dengan metode, satu tangan mengendalikan rangka angklung, dan tangan yang lain menggoyangkannya hingga menciptakan bunyi atau bunyi. Terdapat tiga teknik dasar menggoyangkan angklung, merupakan:

  • Kurulung (getar), merupakan teknik yang paling umum diaplikasikan, di mana satu tangan membatasi rangka angklung, dan tangan lainnya menggoyangkan angklung selama nada yang diinginkan, hingga tabung-tabung bambu yang ada silih bertarung dan mewujudkan bunyi.
  • Cetok (sentak), yakni teknik di mana tabung dasar ditarik dengan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan, sehingga angklung akan berbunyi sekali saja (stacato).
  • Tengkep, merupakan teknik yang mirip seperti kurulung, tetapi salah satu tabung dibendung tak ikut bergetar

PENUTUP

Sikap yang perlu ditanamkan pada generasi muda terhadap poin tradisi tersebut :

Pembaca mengetahui jenis alat musik yang disebut Angklung dengan sejarah, macam, dan cara memainkannya serta tokoh pelestari Angklung. Pembaca juga dapat memberi tahu dan mengajari alat musik tradisional Sunda berupa angklung terhadap masyarakat luas, secara khusus agar tertanam jiwa kecintaan terhadap budaya tradisional Sunda.

Manfaat yang didapat dari kebiasaan tersebut :

Alat musik ini mempunyai kekhasan tersendiri karena simpel, alami, gampang dipelajari dan dimainkan serta dapat menciptakan orkestrasi yang merdu. Angklung dapat dimainkan secara individu maupun bersama,. Dalam beragam kesempatan, Angklung juga cukup tepat sasaran sebagai media untuk membangun persahabatan individu, tempat maupun antar-bangsa.

Buku Pegangan Siswa SD/MI Kelas 1 Tema 5 Pengamanku

Buku Pegangan Siswa SD/MI Kelas 1 Tema 5 Pengamanku

Referensi / Link

(Visited 40 times, 5 visits today)

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *